Metodologi Berorientasi Objek
Metodologi Berorientasi Objek
(MBO) atau sering disebut juga Unified modeling language (UML). MBO/UML adalah
sebuah bahasa yang telah menjadi standar dalam industri untuk visualisasi,
merancang dan mendokumentasikan system perangkat lunak.
Metodologi berorientasi objek adalah suatu strategi pembangunan perangkat lunak yang mengorganisasikan perangkat lunak sebagai kumpulan objek yang berisi data dan operasi yang diberlakukan terhadapnya
Pada saat ini, metode berorientasi objek banyak dipilih karena metodologi lama banyak menimbulkan masalah seperti adanya kesulitan pada saat mentransformasi hasil dari satu tahap pengembangan ke tahap berikutnya. Misalnya pada metode pendekatan terstruktur, jenis aplikasi yang dikembangkan saat ini berbeda dengan masa lalu. Aplikasi yang dikembangkan pada saat ini sangat beragam (aplikasi bisnis. real-time, utility, dan sebagainya) dengan platform yang berbeda-beda, sehingga menimbulkan tuntutan kebutuhan metodologi pengembangan yang dapat mengakomodasi ke semua jenis aplikasi tersebut.
Keuntungan menggunakan metodologi berorientasi
objek adalah sebagai berikut:
- Meningkatkan
produktivitas, karena kelas dan objek yang ditemukan dalam
suatu masalah masih dapat dipakai ulang untuk masalah lainnya
yang melibatkan objek tersebut (reusable).
- Mecepatan
pengembangan, karena sistem yang dibangun dengan baik dan benar pada saat
analisis dan perancangan akan menyebabkan berkurangnva kesalahan pada saat
pengkodean kemudahan pemeliharaan.
- Karena
dengan model objek, pola-pola yang cenderung tetap dan stabil dapat
dipisahkan dan pola-pola yang mungkin sering berubah-ubah adanya
konsistensi karena sifat pewarisan dan penggunaan notasi yang sama
pada saat analisis, perancangan maupun pengkodean.
meningkatkan kualitas perangkat lunak.
- Pendekatan pengembangan lebih dekat dengan dunia nyata dan adanya konsistensi pada saat pengembangannya, perangkat lunak yang dihasilkan akan mampu memenuhi kebutuhan pemakai serta mempunyai sedikit kesalahan.
Tujuan utamanya adalah mendesain dan membangun
sistem dengan mengumpulkan objek software yang dapat digunakan, bukan dengan
menulis modul software dari awal. Kemudian, apa yang menjadi kelebihan
metodologi berorientasi objek?
Kelebihan metodologi berorientasi objek
diantaranya:
- Dibandingkan
dengan metode SSAD, OOAD lebih mudah digunakan dalam pembangunan
sistem
- Dibandingkan
dengan SSAD, waktu pengembangan, level organisasi, ketangguhan,dan
penggunaan kembali
(reuse) kode program lebih tinggi dibandingkan dengan metode OOAD (Sommerville, 2000).
- Tidak
ada pemisahan antara fase desain dan analisis, sehingga meningkatkan
komunikasi antara user dan developer dari awal hingga akhir
pembangunan sistem.
- Analis
dan programmer tidak dibatasi dengan batasan implementasi sistem, jadi
desain dapat diformliasikan yang
dapat dikonfirmasi dengan berbagai lingkungan eksekusi.
- Relasi
obyek dengan entitas (thing) umumnya dapat di mapping dengan baik seperti
kondisi pada dunia nyata dan keterkaitan dalam sistem. Hal ini
memudahkan dalam mehami desain (Sommerville, 2000).
- Memungkinkan
adanya perubahan dan kepercayaan diri yang tinggi terhadap kebernaran
software yang membantu untuk
mengurangi resiko pada pembangunan sistem yang kompleks (Booch,
2007).
- Encapsliation
data dan method, memungkinkan penggunaan kembali pada proyek lain, hal ini
akan memperingan proses desain, pemrograman dan reduksi harga.
- OOAD
memungkinkan adanya standarisasi obyek yang akan memudahkan memahami
desain dan mengurangi resiko pelaksanaan proyek.
- Dekomposisi
obyek, memungkinkan seorang analis untuk memcah masalah menjadi
pecahan-pecahan masalah dan bagian-bagian yang dimanage secara
terpisah. Kode program dapat dikerjakan bersama-sama.
- Metode
ini memungkinkan pembangunan software dengan cepat, sehingga dapat segera
masuk ke pasaran dan kompetitif. Sistem yang dihasilkan sangat
fleksibel dan mudah dalam memelihara.
Lalu, yang menjadi kekurangan dalam metodologi berorientasi objek yaitu:
- Pada
awal desain OOAD, sistem mungkin akan sangat simple.
- Pada
OOAD lebih fockus pada coding dibandingkan dengan SSAD.
- Pada
OOAD tidak menekankan pada kinerja team seperti pada SSAD.
- Pada
OOAD tidak mudah untuk mendefinisikan class dan obyek yang
dibutuhkan sistem.
- Sering
kali pemrogramam berorientasi obyek digunakan untuk melakukan anlisisis
terhadap fungsional siste, sementara
metode OOAD tidak berbasis pada fungsional sistem.
- OOAD
merupakan jenis manajemen proyek yang tergolong baru, yang berbeda dengan
metode analisis dengan metode terstruktur. Konsekuensinya adalah, team
developer butuh waktu yang lebih lama untuk berpindah ke OOAD, karena
mereka sudah menggunakan SSAD dalam waktu yang lama ( Hantos, 2005).
- Metodologi
pengembangan sistem dengan OOAD menggunakan konsep reuse. Reuse merupakan
salah satu keuntungan utama yang menjadi alasan digunakannya OOAD. Namun
demikian, tanpa prosedur yang emplisit terhadap reuse, akan sangat sliit
untuk menerapkan konsep ini pada skala besar (Hantos, 2005).
